Kisah Ana 2

Aku menggeliatkan tubuhku sambil menguap, kutengok jam menunjukkan pk. 4 sore. Cukup lama juga aku tidur siang ini. Mungkin karena badanku terasa enak habis dipijit pak Tikno. Malam minggu nih, meski ngapain? Pikirku dalam hati
Masih malas rasanya dan inginnya rebahan saja. Diluar cahaya matahari masih terang bersinar, terlihat dari jendelaku yang terbuka lebar. Surabaya memang panas, untung saja kamarku kupasang AC, meski harus nambah biaya kos bulanan, namun dasar AC sudah tua dinginnya tak seberapa, tapi masih untung daripada tidak ada sama sekali seperti kamar kos anak-anak lain.

Sambil rebahan aku sempat membayangkan sensasi pijat tadi siang, sungguh pengalaman baru yang sensasional bagiku. Disentuh dan dipermainkan oleh pak Tikno, orang yang sama sekali tak pernah terbayangkan untuk memegang, bahkan sekedar menyentuh tanganku, namun tadi siang dia telah leluasa meraba seluruh bagian tubuhku. Aku juga merasa berdosa sama Anton karena membiarkan tubuhku dijamah laki-laki selain dia. Anehnya membayangkan kejadian tadi siang membuat aku jadi horny. Aku membayangkan Anton jika saat ini dia ada di sini pasti gairahku ini bisa tersalurkan, acara ngent*t dijamin seru.. hehe.. maaf pakai istilah vulgar, seperti kisah sebelumnya ini gara-gara pengalaman liarku dengan Anton.

Sambil asyik membayangkan tangankupun tanpa sadar meraba-raba tubuhku, kumainkan susuku hingga putingkupun jadi mengeras. Kemudian kuusap-usap itilku, enak sekali rasanya. Akupun jadi kangen sama Anton, kuambil HP buat nelpon dia.
”halo say” terdengar suara Anton
”yank aku kangen nih”
”lagi apa?…bla bla bla….
Akupun asyik ngobrol dengan Anton dan tentunya obrolanku nyrempet-nyrempet ke hal porno, ya maklumlah kalo pasangan lagi saling kangen. Aku bilang ke Anton kalau aku kesepian karena ia tidak mengunjungiku. Anton menyarankanku untuk keluar jalan ama temen-temen, aku bilang lagi ga enak badan, capek.
”Pijit aja ama mbak mirah seperti biasa” saran Anton
”Mbak Mirah lagi ke Madiun” jawabku,”ada juga tukang pijit laki-laki tetangga sebelah” lanjutku.
”ya coba aja kalo emang pijitannya enak..”
”ga enak ah… aku nggak mau ada laki-laki selain kamu menjamah tubuhku” sanggahku, aku nggak berani bilang kalo sebenarnya tadi siang aku sudah mengalami itu dan menikmatinya.
”ya ga papalah kan cuma pijat” kata Anton yang sungguh diluar dugaanku
”Cuma pijat…tapi tetep aja ntar tubuhku dijamah, apalagi biasanya kalo pijit buka baju, ntar kalo tiba-tiba aku diperkosa gimana?
”Ya..jangan nglawan daripada ntar disakiti..”
”eh..sayank nih gimana to..pacarnya mau diperkosa kok suruh diem aja” kataku menanggapi komentar Anton ”udah gak sayang apa?” Sergahku
”Bukan begitu say…justru karna sayang jadi aku pengen kebutuhan biologismu bisa tetep terpenuhi meski kita ga bisa bertemu…asal..tidak dilandasi perasaan cinta sih aku ga masalah kok kalo kamu mau ngent*t ama orang lain..”. Jelas Anton
”Hush..sayank gimana sih…ngaco deh ngomongnya” sergahku
”lho..aku tuh maklum…aku juga sering muncul birahi saat jauh dari kamu say..tapi kalo laki-laki kan gampang..colai pake sabun atau mainin guling aja sambil bayangin sayank bugil udah bisa klimaks..kalo cewek kan susah..”
”Kalo aku cewek kan lebih bisa nahan daripada cowok” kataku
Terus terang aku bingung denger penjelasannya, dia emang gak tahu kalo aku juga sering masturbasi dengan caraku sendiri, tapi emang aku gak pernah cerita, namun tawaran Anton itu yang bikin seperti gak masuk akal, masak pacarnya suruh main sama orang lain, emang ada pacar seperti itu, sepertinya gak masuk akal bagiku. namun di sisi lain omongan Anton itu bisa menghilangkan rasa bersalahku karena tadi siang begitu menikmati pijatan Pak Tikno.
”Udah ah jangan ngomongin itu..”potongku
”aku laper nih yank, mau cari makan dulu ya..”
”Ok deh..ntar sambung lagi ya…I miss you..” kata Anton seperti biasa ketika mengakiri obrolan.
”Ok..miss you too” jawabku sambil menutup telpon.
Aku sempat sewot dengan perkataan Anton tadi yang mengijinkan aku ngent*t ama orang lain. Gila aja pikirku.
Masih dengan tubuh bugil aku beranjak dari tempat tidur. Kutengok jam sudah menunjukkan Pk.5 lebih. Diluar terdengar sepi nggak ada suara obrolan anak-anak yang biasa nongkrong.

Malam Minggu bingung mesti kemana, ngga ada acara, aku mencoba menelpon Mas Dodik, temenku anak geng pecinta alam yang dulu aku sering bergabung dengan mereka ikut acara naik gunung, namun sejak aku punya pacar sudah jarang ikut lagi, paling Cuma ikut nongkrong di markas aja.
”Halo..mas dodik ya? Apa kabar mas? Ana nih..” ku buka percakapan di telpon
Mas Dodik sempat kaget tumben aku nelpon dia. Dari pembicaraan ternyata lagi nggak ada acara naik gunung, malam minggu ini mereka hanya ngumpul di markas aja, maka kuputuskan untuk maen ke markas mereka.
Kubuka pintu dan kulongokkan kepalaku untuk melihat situasi diluar, yakin nggak ada orang aku keluar dengan masih kondisi bugil, aku berlari kecil menuju jemuran handuk yang terletak tak jauh dari kamarku, kulilitkan handuk yang tidak cukup besar itu ke tubuhku yang hanya bisa menutupi bagian tubuh dari dada sampai ke pangkal pahaku. Kemudian dengan santai aku menuju kamar mandi.

Ketika sedang asyik asyiknya mandi, terdengar suara segerombolan lelaki naik kelantai 2, sudah bisa ditebak itu suara anak-anak kos yang biasa nongkrong di depan kamar si Roy. Entah kenapa mendengar suara mereka aku jadi horny, mereka terdengar mulai asyik ngobrol dan kadang berbisik, apa yang mereka bisikkan tidak jelas terdengar olehku. Aku sendiri di kamar mandi jadi klimpungan karena horny, maklum lagi rindu belaian lelaki karena sudah berminggu-minggu Anton nggak datang ke surabaya menengokku lantaran sibuk dengan pekerjaannya, akupun mulai menyentuh dan membelai-belai memiawku, acara masturbasipun tak bisa dihindarkan, namun kali ini yang menjadi imajinasiku adalah ngent*t dengan salah satu dari anak-anak kos yang lagi pada ngobrol. Mungkin ini pengaruh dari perkataan Anton yang mengijinkan aku ngent*t dengan laki-laki lain. Anehnya imajinasi itu membawa kenikmatan yang luar biasa di acara masturbasiku, aku jadi sangat bergairah, nafsuku memuncak, aku sangat menikmati, apalagi diluar kamar mandi terdengar suara anak-anak pada ngobrol seru sambil tertawa-tawa.

Acara masturbasiku pun makin seru hingga akirnya aku klimaks dan terasa lemas. Kemudian kusiram tubuhku dan melanjutkan acara mandiku, setelah selesai kukeringkan tubuhku dengan handuk, kemudian kulilitkan handuk yang habis kupakai untuk menutupi tubuhku, meski hanya sebagian saja yang terlindung karena ukuran handuk yang kupakai memang tidak cukup besar, hanya bisa menutupi sepertiga susuku hinga pangkal pahaku, wow.. nyaris telanjang pikirku.
Dengan berusaha bersikap santai kulangkahkan kakiku melalui anak2 yang lagi pada ngobrol. Aku sedikit surprise waktu melewati mereka karena ternyata ada 2 orang lagi yang masih asing bagiku, nggak tahu temen siapa karena sepertinya sama sekali belum pernah kulihat. Akupun sedikit salah tingkah karena keberadaan 2 orang tersebut mengingat kondisi tubuhku saat ini yang hanya tertutup sebagian oleh handuk sementara dibaliknya aku tak pakai apa-apa lagi. Meski sedikit ada rasa aneh namun aku berusaha cuek dan santai melangkah menuju kamarku sambil tangan kiriku memegang simpul handuk tepat di belahan susuku dan tangan kananku menutup bagian belakang pantatku karena saking minimnya handuk takut memiaw ku terekspos dari belakang karena mungkin saja handuk sedikit terangkat karena bongkahan pantaku yang cukup montok
”Wah habis mandi Na? Seger ya?” tanya Roy basa basi..
”iya lah” jawabku sekenanya
”Na kenalin dong niy temenku” Roy mengenlkan 2 temannya, mereka menyodorkan tangan untuk berjabat, akupun terpaksa berhenti dan menyambut jabat tangan mereka dengan tangan kananku sehingga aku tak lagi menutupi bagian belakang pantatku, pikirku masih terlindung handuk ini, asal aku tidak banyak bergerak atau nungging pasti masih tak terlihat, soalnya kalau aku nungging sedikit saja pastilah handuk akan terangkat dan memiaw ku dapat jelas terlihat.. hiii.. malu ah.. meski sensasinya bakal seru, tapi ga berani ah.. hehe..

Mereka menyebutkan nama mereka masing-masing. Yang satu namanya Ales, orangnya tinggi, kurus, item, rambutnya kriting giginya tonggos, satu lagi namanya Oki, sama kurus juga tapi badannya lebih pendek wajahnya berjerawat. Habis salaman tangan kananku tidak lagi kembali ke posisi semula, sengaja kubuat agar nampak biasa dan rileks, sementara tangan kiri masih di simpul handuk.
”kerja di jl. kayoon ya mbak?” tanya Ales
”iya…jangan panggil mbak ah.. panggil namanya aja paling kita kan sebaya…” kataku yang kayaknya serasa tua kalo dipanggil mbak.
”Ok..Ana udah lama ya di situ?”
”ya kurang lebih 3 tahunan” jawabku
”kenal sama Siska nggak? Oki nimbrung ikut nyanya
”Siska anak marketing ya? Kenal lah..” jawabku. Merekapun terus melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang seolah-olah hanya untuk membuat biar aku berlama-lama disitu dengan kondisi tubuh polosku hanya terbalut handuk kecil. Dengan cuek aku meladeni obrolan mereka. Selama ngobrol kuperhatikan mata mereka memandangi sekujur tubuhku seolah-olah menelanjangiku. Anehnya aku merasakan sensasi yang lain daripada yang lain, sensasi yang meningkatkan gairah dan jujur aku menikmatinya, makanya aku tak keberatan meladeni obrolan, namun aku berusaha menyembunyikan perasaan aneh itu dengan bersikap sebiasa mungkin. Tangan kiriku pun kini tidak lagi selalu memegangi simpul handuk, sperti sudah terbiasa, handuk itu jadi bajuku saja sehingga yakin tak bakal melorot.

Kebetulan juga kita menemukan obrolan yang nyambung jadi akhirnya banyak jg yang dibicarakan. Lama-lama aku menikmati obrolan dan juga menikmati suasana dimana aku yang dalam keadaan nyaris telanjang menjadi pusat perhatian semua lelaki di situ. Cukup lama aku melayani obrolan dengan situasi seperti itu, kira-kira sampai 15 menitan, hingga akhirnya aku menyudahi obrolan itu karena takut aku sendiri terjebak dalam situasi ini dan bisa menimbulkam hal yang tak diinginkan terjadi, atau sebenarnya kuinginkan ya?? Tak taulah.. hehe..15 menit yang mendebarkan namun sekaligus memunculkan gairah bagiku.
”Sudah dulu ya.. aku mau pake baju dulu..mo jalan ke rumah temen nih..” pamitku ke mereka sambil berjalan menuju kamarku.
”yach jadi ga seru nih ngobrolnya, artisnya dah pergi” canda Roy
”artis dari Hongkong” sahutku
”artis Hongkong lewatlah.. kau lebih seksi Na..” celoteh Roy masih nyambung aja diiringi gelak tawa cowok-cowok lainnya
”makasih dibilang seksi” sahutku sambil menengok ke arah mereka sambil pasang tampang genit dan terus ngloyor masuk kamar dengan tangan memegang simpul handuk, takut tiba-tiba melorot, bisa-bisa tubuh telanjangku terpampang dinikmati mereka, meskipun ingin rasanya itu terjadi, tapi gak berani ah.. atau belom berani?? Hehe..

Setelah masuk kamar pintupun kututup, tanpa menguncinya karena emang jarang ku kunci kecuali aku sedang pergi.
Di kamar aku lepaskan handukku dan kupandangi tubuhku yg polos di cermin.. penasaran aja apa benar aku ini seksi, mengalahkan artis Hongkong seperti kata Roy.. kok jadi ge er gini yach.. hehehe…

Aku pun mulai pilih baju dan siap-siap untuk maen ke tempat Mas Dodik yang tadi udah kutelpon, mau ketemu ama anak-anak pecinta alam, kangen juga sama canda mereka, sudah lama nggak ketemu.

Ok ya.. aku jalan dulu.. sampe ketemu di kisah selanjutnya.. daaghh…

Tentang omgermo

apalagi klo bukan germo. jadi germo itu asik looo hahahahaha....
Pos ini dipublikasikan di Eksibisi. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s